Rabu, 30 Maret 2011

polio dan campak

Tips Praktis Mengatasi Campak

Sinonim
1. Measles
2. Rubeola
3. Morbilli
4. Morbili
5. Purukasaeja
6. Gabagen (Jawa)

Definisi
Penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus yang umumnya menyerang anak.

Penyebab
Virus campak, tergolong dalam genus morbili, famili Paramyxoviridae, merupakan jenis virus RNA.

Epidemiologi
* Case fatality rate: 1,2 %.
* Usia terbanyak menderita campak: < 12 bulan. Referensi lain mnyebutkan bahwa campak terutama menyerang usia 5-9 tahun; namun di negara yang belum berkembang, insiden tertinggi pada usia di bawah 2 tahun.
* Angka kejadian campak di Indonesia pada tahun 1990-2002 sekitar 3000-4000 per tahun.
* Wabah campak dapat terjadi pada kelompok anak yang rentan, yaitu dengan gizi buruk dan daya tahan tubuh menurun.
* Di dunia, secara global 10% dari semua penyebab kematian balita disebabkan oleh campak (sekitar 800.000 kemtian tiap tahunnya).

Manifestasi Klinis
1. Stadium inkubasi
Berlangsung 10-12 hari, tanpa gejala.

2. Stadium prodromal
Berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan gejala-gejala demam, diikuti coryza (batuk, bersin, diikuti hidung tersumbat dan ingus/pilek), faring merah, nyeri saat menelan, stomatitis (radang mulut), konjungtivitis. Tanda khas (pathognomonic): enantema mukosa bukalis di depan gigi seri (molar) ketiga yang disebut bercak Koplik (Koplik's spots).

3. Stadium erupsi
Ditandai dengan panas tinggi dan timbulnya rash makulopapuler (ruam kemerahan) yang dimulai dari batas rambut di belakang telinga, lalu menyebar ke wajah, leher,
dan akhirnya ke ekstremitas (anggota gerak tubuh, seperti tangan dan kaki).

4. Stadium penyembuhan (konvalesens)
Setelah tiga hari ruam berangsur-angsur menghilang. Ruam kulit menjadi kehitaman dan mengelupas, akan menghilang setelah 1-2 minggu. Adanya kulit kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi) dapat merupakan tanda penyembuhan.

Pemeriksaan Penunjang
* Pemeriksaan Laboratorium
Darah tepi: jumlah leukosit normal atau meningkat jika ada komplikasi infeksi bakteri. Dapat disertai leukopenia, limfopenia.

* Pemeriksaan yang perlu dilakukan jika disertai komplikasi:
a. Ensefalopati: pemeriksaan cairan serebrospinalis, kadar elektrolit darah, dan analisis gas darah.
b. Enteritis: feses lengkap.
c. Bronkopneumonia: pemeriksaan foto dada dan analisis gas darah.

* Pemeriksaan imaging
Pemeriksaan foto dada (chest radiograph) seringkali menunjukkan gambaran hyperinflation, perihilar infiltrates, atau parenchymal patchy, fluffy densities. Konsolidasi sekunder atau efusi dapat juga terlihat (visible).

* Pemeriksaan Sitologis
Ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosa hidung dan pipi.

* Pemeriksaan Patologis
Dijumpai distribusi yang luas dari multinucleated giant cell akibat fusi sel-sel. Multinucleated giant cell ini dapat ditemukan di sputum, sekresi nasal, dan sedimen urin.

* Pemeriksaan Serologi
- Didapatkan IgM spesifik.
- IgM lebih sensitif bila diperiksa antara hari ke-3 sampai hari ke-28 timbulnya rash (ruam kemerahan).
- Pemeriksaan serologis dengan cara hemagglutinin inhibition test dan complement fixation test akan dijumpai adanya antibodi yang spesifik dalam waktu 1-3 hari setelah timbul rash dan mencapai puncaknya 2-4 minggu kemudian. Tes ini cukup praktis dan spesifik untuk mendiagnosis morbili atipik atau subklinik.

Diagnosis Banding
1. Rubela
2. Demam skarlatina
3. Ruam (rash) akibat obat-obatan atau erupsi obat
4. Eksantema subitum
5. Infeksi Stafilokokus
6. Infeksi mononukleosis (mononukleosis infeksiosa)
7. Ricketsia
8. Penyakit Kawasaki

Penyulit/Komplikasi
1. Diare dapat diikuti dehidrasi
2. Laringitis akut
3. Laringotrakeobronkitis (croup)
4. Pneumonia
5. Bronkopneumonia
6. Pneumomediastinal
7. Kejang demam
8. Ensefalitis akut
9. SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis)
10. Otitis media
11. Mastoiditis
12. Enteritis
13. Konjungtivitis
14. Ulkus kornea
15. Sistem kardiovaskuler
16. Adenitis servikal (cervical adenitis)
17. Purpura trombositopenik dan non-trombositopenik
18. Pada ibu hamil dapat terjadi abortus, partus prematurus, dan kelainan kongenital
19. Aktivasi tuberkulosis
20. Emfisema subkutan
21. Apendisitis
22. Gangguan gizi hingga kwasiorkor (malnutrisi)
23. Infeksi piogenik pada kulit
24. Kankrum oris (noma)
25. Kebutaan

Penatalaksanaan
A. Tanpa Komplikasi
* Dirawat di bangsal isolasi, keadaan umum diperbaiki dengan cairan dan diet yang memadai, yaitu: diet makanan cukup cairan dan kalori yang memadai.
* Vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, bila
terdapat malnutrisi dilanjutkan 150.000 IU tiap hari.
* Pedoman lain pemberian vitamin A:
- < 6 bulan : 50.000 IU/hari >2 hari.
- 6-11 bulan : 100.000 IU/hari >2 hari.
- > 12 bulan : 200.000 IU/hari >2 hari.
* Indikasi rawat inap:
a. Hiperpireksia (suhu>39.0 ºC)
b. Dehidrasi
c. Kejang
d. Asupan oral sulit
e. Adanya komplikasi

B. Dengan Komplikasi
1. Ensefalopati
* Kloramfenikol 75 mg/Kg berat badan/hari dan ampisilin 100 mg/Kg berat badan/hari selama 7-10 hari.
* Kortikosteroid: deksametason 1 mg/Kg berat badan/hari sebagai dosis awal; dilanjutkan 0,5 g/Kg berat badan/hari dibagi dalam 3 dosis hingga kesadaran membaik (bila pemberian lebih dari 5 hari dilakukan tappering off).
2. Bronkopneumonia
* Kloramfenikol 75 mg/Kg berat badan/hari dan ampisilin 100 mg/Kg berat badan/hari selama 7-10 hari.
* Oksigen 2 liter/menit.
* Koreksi gangguan analisis gas darah dan elektrolit.
3. Enteritis
Koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi.

Pencegahan
Pemberian imunisasi aktif pada bayi berusia 9 bulan atau
lebih.

Efek samping imunisasi:
1. Hiperpireksia.
2. Gejala infeksi saluran pernapasan bagian atas.
3. Morbili form rash
4. Kejang demam
5. Ensefalitis
6. Demam

Ada dua macam vaksin campak:
1. Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan
dilemahkan (tipe Edmonsone B). Vaksin ini diberikan subkutan sebanyak 0,5 mL pada usia 9 bulan.
2. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak berada dalam larutan formalin dicampur garam aluminium)

Vaksinasi campak tidak boleh dilakukan bila:
1. Menderita infeksi saluran napas akut atau infeksi akut lainnya yang disertai demam > 38ºC.
2. Riwayat kejang demam.
3. Defisiensi imunologis.
4. Sedang mendapat pengobatan kortikosteroid dan imunosupresif.

Prognosis
Biasanya sembuh setelah 7-10 hari setelah timbul ruam kulit.
Kematian disebabkan karena penyulit bronkopneumonia dan ensefalitis.

Mutiara Diagnosis Campak
I. Diagnosis
Masa inkubasi:10-14 hari.

A. Keluhan pokok
1. Demam tinggi
2. Malaise
3. Keluhan 3C (Coryza, Conjunctivitis, Coughing)

B. Tanda penting
1. Eritema pada kulit muka, badan, dan ekstremitas.
2. Tanda 3C.
3. Koplik's spot pada mukosa mulut
4. Lidah mirip "lidah tifoid"

C. Pemeriksaan Laboratorium
Leukopeni

II. Komplikasi
1. Susunan saraf pusat
2. Penyakit traktus respiratorius
3. Infeksi sekunder
4. TB

III. Penatalaksanaan
A. Terapi Umum
1. Istirahat
Diisolasi dan istirahat di tempat tidur sampai apireksi
(tidak demam)
2. Diet
3. Medikamentosa
Obat pertama: -
Obat alternatif:
Vitamin A 2x400.000 IU per oral.

B. Terapi Komplikasi
Bila ada infeksi sekunder diberi antibiotik.

IV. Prognosis
Di negara berkembang mortalitas tinggi (10%).

Tahukah Anda?
* Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah terkena campak akan mendapat kekebalan pasif (melalui plasenta) sampai usia 4-6 bulan, setelah usia tersebut kekebalan bayi akan berkurang sehingga bayi dapat menderita morbili.

* Tes PCR dari sekret orofaringeal atau urin sangat sensitif dan spesifik; dapat mendeteksi infeksi campak sampai 5 hari sebelum gejala muncul.

* Istilah patognomonik (pathognomonic) berarti gejala (symptom) yang khas (typical) dan karakteristik, mengindikasikan (memberi petunjuk bahwa) seorang penderita/pasien memiliki kelainan/penyakit tertentu (particular disease).

Cegah Virus Polio dengan Vaksinasi
February 4, 2008 • Filed under imunisasi • Tagged vaksinasi polio
Hingga saat ini belum ditemukan cara pengobatan penyakit polio. Yang paling efektif hanyalah pencegahan dengan cara imunisasi.
Kasus penyakit polio di Sukabumi, Jawa Barat,sangat mengejutkan pemerintah dan masyarakat. Penyakit yang diakibatkan infeksi virus ini jelas mencemaskan para orang tua yang punya anak balita karena begitu mengerikan dampak buruk yang bisa ditimbulkan. Sayangnya lagi, hingga saat ini belum ditemukan cara pengobatannya. Yang paling efektif hanyalah pencegahan dengan cara imunisasi.
Virus polio (poliomyelitis) sangat menular dan tak bisa disembuhkan. Virus ini menyerang seluruh tubuh (termasuk otot dan sistem saraf) dan bisa menyebabkan kelemahan otot yang sifatnya permanen dan kelumpuhan total dalam hitungan jam saja. Bahkan sekitar 10-15 persen mereka yang terkena polio akhirnya meninggal karena yang diserang adalah otot pernapasannya.
Virus polio terdiri atas 3 tipe (strain), yaitu tipe 1 (brunhilde), tipe 2 (lanzig) dan tipe 3 (Leon). Tipe 1 seperti yang ditemukan di Sukabumi adalah yang paling ganas (paralitogenik) dan sering menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Sedangkan tipe 2 paling jinak.
PROSES PENULARAN
Virus masuk melalui mulut dan hidung lalu berkembang biak di dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus. Selanjutnya, diserap dan disebarkan melalui sistem pembuluh darah dan pembuluh getah bening.
Penularan virus terjadi secara langsung melalui beberapa cara, yaitu:
* fekal-oral (dari tinja ke mulut)
Maksudnya, melalui minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita lalu masuk ke mulut orang yang sehat.
* oral-oral (dari mulut ke mulut)
Yaitu melalui percikan ludah atau air liur penderita yang masuk ke mulut orang sehat lainnya.
Sebenarnya, kondisi suhu yang tinggi dapat cepat mematikan virus. Sebaliknya, pada keadaan beku atau suhu yang rendah justru virus dapat bertahan hidup bertahun-tahun. Ketahanan virus ini di dalam tanah dan air sangat bergantung pada kelembapan suhu dan adanya mikroba lain. Virus ini dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai berkilo-kilometer dari sumber penularan.
Meskipun cara penularan utama adalah akibat tercemarnya lingkungan oleh virus polio dari penderita yang terinfeksi, namun virus ini sebenarnya hidup di lingkungan yang terbatas. Nah, salah satu inang atau mahluk hidup perantaranya adalah manusia.
GEJALA KLINIS
Masa inkubasi virus polio biasanya berkisar 3-35 hari. Gejala umum serangannya adalah pengidap mendadak lumpuh pada salah satu anggota gerak setelah demam selama 2-5 hari.
Berikut fase-fase infeksi virus tersebut:
* stadium akut
Yaitu fase sejak adanya gejala klinis hingga 2 minggu. Ditandai dengan suhu tubuh yang meningkat. Kadang disertai sakit kepala dan muntah-muntah. Kelumpuhan terjadi akibat kerusakan sel-sel motor neuron di bagian tulang belakang (medula spinalis) lantaran invasi virus. Kelumpuhan ini bersifat asimetris sehingga cenderung menimbulkan gangguan bentuk tubuh (deformitas) yang menetap atau bahkan menjadi lebih berat. Kelumpuhan yang terjadi sebagian besar pada tungkai kaki (78,6%), sedangkan 41,4% pada lengan. Kelumpuhan ini berlangsung bertahap sampai sekitar 2 bulan sejak awal sakit.
* stadium subakut
Yaitu fase 2 minggu sampai 2 bulan. Ditandai dengan menghilangnya demam dalam waktu 24 jam. Kadang disertai kekakuan otot dan nyeri otot ringan. Terjadi kelumpuhan anggota gerak yang layuh dan biasanya salah satu sisi saja.
* stadium konvalescent
Yaitu fase pada 2 bulan sampai dengan 2 tahun. Ditandai dengan pulihnya kekuatan otot yang sebelumnya lemah. Sekitar 50-70 persen fungsi otot pulih dalam waktu 6-9 bulan setelah fase akut. Selanjutnya setelah 2 tahun diperkirakan tidak terjadi lagi pemulihan kekuatan otot.
* stadium kronik
Yaitu lebih dari 2 tahun. Kelumpuhan otot yang terjadi sudah bersifat permanen.
UPAYA PENCEGAHAN
Ada beberapa langkah upaya pencegahan penyebaran penyakit polio ini, di antaranya adalah:
* Eradikasi Polio
Dalam World Health Assembly tahun 1988 yang diikuti oleh sebagian besar negara di seluruh penjuru dunia dibuat kesepakatan untuk melakukan Eradikasi Polio (ERAPO) tahun 2000, artinya dunia bebas polio tahun 2000. Program ERAPO yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan cakupan imunisasi yang menyeluruh.
* PIN (Pekan Imunisasi Nasional)
Selanjutnya, pemerintah mengadakan PIN pada tahun 1995, 1996 dan 1997. Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Kemudian diulang pada saat usia 1,5 tahun; 5 tahun; dan usia 15 tahun.
Upaya imunisasi yang berulang ini tentu takkan menimbulkan dampak negatif. Bahkan merupakan satu-satunya program yang efisien dan efektif dalam pencegahan penyakit polio.
* Survailance Acute Flaccid Paralysis
Yaitu mencari penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun. Mereka harus diperiksa tinjanya untuk memastikan apakah karena polio atau bukan. Berbagai kasus yang diduga infeksi polio harus benar-benar diperiksa di laboratorium karena bisa saja kelumpuhan yang terjadi bukan karena polio.
* Mopping Up
Artinya tindakan vaksinasi massal terhadap anak usia di bawah 5 tahun di daerah ditemukannya penderita polio tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya.
Tampaknya di era globalisasi dimana mobilitas penduduk antarnegara sangat tinggi dan cepat, muncul kesulitan dalam mengendalikan penyebaran virus ini. Selain pencegahan dengan vaksinasi polio tentu harus disertai dengan peningkatan sanitasi lingkungan dan sanitasi perorangan. Penggunaan jamban keluarga, air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan, serta memelihara kebersihan makanan merupakan upaya pencegahan dan mengurangi risiko penularan virus polio yang kembali mengkhawatirkan ini.
Menjadi salah satu keprihatinan dunia bahwa kecacatan akibat polio menetap tak bisa disembuhkan. Penyembuhan yang bisa dilakukan sedikit sekali alias tidak ada obat untuk menyembuhkan polio. Namun, sebenarnya orang tua tak perlu panik jika bayi dan anaknya telah memperoleh vaksinasi polio lengkap.
MENDETEKSI LUMPUH LAYUH
* Bayi
- Perhatikan posisi tidur. Bayi normal menunjukkan posisi tungkai menekuk pada lutut dan pinggul. Bayi yang lumpuh akan menunjukkan tungkai lemas dan lutut menyentuh tempat tidur.
- Lakukan rangsangan dengan menggelitik atau menekan dengan ujung pensil pada telapak kaki bayi. Bila kaki ditarik berarti tidak terjadi kelumpuhan.
- Pegang bayi pada ketiak dan ayunkan. Bayi normal akan menunjukkan gerakan kaki menekuk, pada bayi lumpuh tungkai tergantung lemas.
* Anak besar
- Mintalah anak berjalan dan perhatikan apakah pincang atau tidak.
- Mintalah anak berjalan pada ujung jari atau tumit. Anak yang mengalami kelumpuhan tidak bisa melakukannya.
- Mintalah anak meloncat pada satu kaki. Anak yang lumpuh tak bisa melakukannya.
- Mintalah anak berjongkok atau duduk di lantai kemudian bangun kembali. Anak yang mengalami kelumpuhan akan mencoba berdiri dengan berpegangan merambat pada tungkainya.
- Tungkai yang mengalami lumpuh pasti lebih kecil.
IMUNISASI MASSAL
Laboratorium rujukan global di Mumbai, India, telah mengonfirmasikan bahwa isolat virus yang dikirim dari Sukabumi, Jawa Barat, adalah polio liar (wild poliovirus) tipe 1. Hingga sekarang, pemeriksaan terhadap kasus lumpuh layuh di tiga kecamatan di Sukabumi terus dilakukan. Dari sekitar 17 kasus yang diduga terkena polio, hingga saat ini baru 4 anak yang dinyatakan positif terinfeksi. Dari semua kasus tersebut ternyata tak satu pun yang pernah mendapatkan imunisasi polio.
Para penderita yang diduga terkena polio dan mengalami kelumpuhan masih dibuktikan apakah itu karena polio liar atau bukan. Pemeriksaan secara klinis dilakukan untuk mengetahui sifat kelumpuhannya dengan cara diambil spesimen tinja sebanyak dua kali. Semua kasus yang diduga polio memang harus dibuktikan dengan hasil laboratorium. Pasalnya, tak semua kasus kelumpuhan diakibatkan polio tapi juga bisa terjadi karena infeksi virus penyakit lain, misalnya Guillaire Barre Syndrome, Polyneuropathy, Tranverse Myelitis dan sebagainya. Demikian pula informasi yang menyebutkan bahwa penyakit ini sudah menyebar ke daerah lain, seperti Jawa Tengah. Hal tersebut perlu dibuktikan apakah betul karena polio atau bukan.
Dalam waktu dekat, pemerintah akan melakukan vaksinasi polio secara massal bagi sekitar 5,2 juta balita di tiga provinsi, yakni Jabar, DKI, dan Banten. Vaksinasi gratis itu akan dilakukan dalam dua tahap, pada 21 Mei dan 28 Juni 2005. Orang tua diharapkan membawa anaknya dalam waktu yang sama untuk mendatangi pos-pos yang sudah ditentukan untuk melakukan imunisasi. Pemerintah menyediakan dana sekitar Rp 8,5 miliar untuk pembelian vaksin polio. Sedangkan dana operasional sebesar Rp 9 miliar merupakan bantuan dari pemerintah Australia yang disalurkan melalui WHO.
Pemerintah sendiri menjamin Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit polio ini tidak akan meluas ke daerah lain, karena hampir seluruh balita di Indonesia atau sekitar 90 persen telah diimunisasi polio pada tahun 2002 lalu melalui program imunisasi rutin. Virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995.
Hingga saat ini, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan. Namun, pada awal 2005 ini, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman ternyata terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negara endemis polio. Demikian pula dengan Indonesia yang sebelumnya dinyatakan bebas polio. Kasus polio di Sukabumi memang cukup mengagetkan pemerintah dan masyarakat.

Apakah Polio itu ?

Poliomyelitis (polio) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan sebagian besar menyerang anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Polio tidak ada obatnya, pertahanan satu-satunya adalah imunisasi.Virus polio masuk ke tubuh melalui mulut, dari air atau makanan yang tercemar kotoran penderita polio. Juga disebabkan kurang terjaganya kebersihan diri dan lingkungan. Virus ini menyerang system syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan seumur hidup dalam waktu beberapa lama.

Bagaimana Gejala Polio?


• Demam

• Rasa lelah

• Sakit kepala

• Muntah-muntah

• Rasa kaku pada leher

• Rasa sakit pada kaki atau tangan


Bagaimana mencegah dan membasmi polio dari muka bumi?

Satu-satunya cara mencegah dan membasmi polio adalah melalui pemberian vaksin polio, yaitu :

• Pemberian imunisasi polio lengkap kepada bayi (usia kurang dari 12 bulan) melalui program imunisasi rutin, atau

• Pemberian imunisasi polio kepada bayi dan balita (usia 0 – 59 bulan) melalui imunisasi massal, yang disebut PIN (Pekan Imunisasi Nasional)


Apakah PIN 2006 itu?

PIN (Pekan Imunisasi Nasional) adalah hari-hari yang dicanangkan secara nasional untuk memberikan imunisasi polio dengan 2 (dua) tetes vaksin polio kepada semua bayi dan balita (usia 0 – 59 bulan). Adalah sangat penting bagi para orang tua untuk membawa setiap bayi dan balita ke pos PIN terdekat untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan perlindungan terhadap polio.

Apakah Vaksin Polio Aman?

Vaksin polio sangatlah aman dan efektif bagi anak-anak, bahkan yang sedang sakit. Pastikan imunisasi polio diberikan kepada anak walaupun mereka sedang sakit batuk, pilek, atau diare. Dan pastikan pula anak Anda memperoleh imunisasi penuh, karena setiap dosis tambahan akan memberikan perlindungan lebih bagi anak-anak.

Mengapa perlu PIN lagi?


• Setelah selama 10 tahun Indonesia bebas polio, penyakit ini kembali menyerang Indonesia dan telah melumpuhkan lebih dari 300 anak.

• Virus polio mencari kelompok-kelompok anak yang tidak terimunisasi di Indonesia.

• Penyakit polio SANGAT MENULAR. Satu orang anak yang belum diimunisasi berisiko menimbulkan penyakit polio pada anak-anak disekitarnya. Karenanya, PIN datang lagi untuk melindungi anak cucu kita dari ancaman penyakit polio dan memutuskan mata rantai penyebaran virus polio di Indonesia, sehingga Indonesia benar-benar bebas polio.


Bagaimana Pelaksanaan PIN 2006?

• PIN dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia dalam 2 (dua) putaran lanjutan. Putaran IV tanggal 27 Februari 2006 dan putaran V tanggal 12 April 2006.

• Pelayanan imunisasi polio dilakukan di pos PIN yang berlokasi di Posyandu, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit, dan tempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya, baik pemerintah maupun swasta.

• Tempat-tempat strategis lainnya diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai Pos PIN, seperti terminal, stasiun, pasar, taman kanak-kanak, kelompok bermain, panti asuhan, dan tempat penitipan anak dengan dukungan sumber daya dari masyarakat dan pemerintah daerah.

• Pos PIN memberikan layanan imunisasi secara GRATIS. Jangan ada lagi yang lumpuh seumur hidup karena Polio. Mari, Lindungi Anak-anak Kita dari Polio………..!
PENYAKIT POLIO
1. Penyakit Polio : suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen
2. siapa yang bisa terserang Polio ?
penyakit ini dapat menyerang pada semua kelompok umur, namun yang peling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3 tahun.
3. bagaimana virus polio liar masuk kedalam tubuh manusia:
•virus polio masuk kedalam tubuh manusia melalui mulut dan berkembang biak ditenggorokan dan usus.
•Berkembang biak selama 4 sampai 35 hari, kemudian akan dikeluarkan melalu tinja selama beberapa minggu kemudian.
4. bagaimana gejala awal penyakit polio ini :
•demam, lemas, sakit kepala, muntah, sulit buang air besar, nyeri pada kaki/tangan, kadang disertai diare.
•Kemudian virus menyerang dan merusakkan jaringan syaraf , sehingga menimbulkan kelumpuhan yang permanen.

5. apakah seorang yang terserang polio pasti lumpuh selamanya ?
•kelumpuhan permanen hanya terjadi pada kurang dari 1 persen orang yang terinfeksi virus polio.
•Sebagian besar orang yang terinfeksi penyakit polio hanya merasa seperti sakit flu.
•Keadaan ini menyebabkan virus polio dapat menyebar dengan cepat tanpa diketahui ., karena sebagian besar anak yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala yang khusus.
6. bagaimana cara mencegahnya ?
semua bayi harus diimunisasi lengkap sebelum umur 1 tahun.
TABEL IMUNISASI :
UMUR VAKSIN
0 bln Hepatitis B 1
1 bln BCG
2 bln DPT /HB COMBO1, POLIO1
3 bln DPT /HB COMBO2, POLIO2
4 bln DPT /HB COMBO3, POLIO3
9 bln Campak , polio 4
7. apakah bayi yang pernah diimunisasi polio lengkap (4 kali ) masih bisa terkena polio ?
•vaksin polio dapat menimbulkan kekebalan yang tinggi.
•Dosisi tunggal dapat menimbulkan kekebalan pada 50 % bayi, 3 dosis menimbulkan kekebalan sampai 95 %.
•Anak dengan kekebalan yang rendah masih beresiko terhadap polio, sekalipun tidak menderita kelumpuhan namun masih dapat terinfeksi dan menjadi sumber penularan polio.
1. kegiatan apa yang harus dilakukan pemerintah agar polio dapat dihilangkan ?
2.
o imunisasi pada seluruh bayi.
o Mengadakan pekan imunisasi nasional.


* Apa itu Campak?
Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus.

Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada.

Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini.

4 fase Campak:

1. fase Inkubasi

Fase inkubasi berlangsung sekitar 10-12 hari. Di fase ini agak sulit mendeteksi infeksinya karena gejalanya masih bersifat umum bahkan tidak terlihat sama sekali. Mungkin beberapa anak mengalami demam tetapi umumnya anak tidak merasakan perubahan apa-apa. Bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas campak pun belum keluar.

Anjuran: Menjaga keseimbangan gizi

2. Fase Prodormal

Adalah fase dimana gejala penyakit sudah mulai timbul seperti flu, batuk, pilek, dan demam. Mata anak pun akan tampak kemerah-merahan dan berair. Tak hanya itu, anak tidak bisa melihat dengan jelas ke arah cahaya karena merasa silau (photo phobia). Ciri lain, di sebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga mengalami diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5° C. Di fase kedua bercak merah belum muncul.

Anjuran: segera periksa ke dokter

3. Fase Makulopapuler

Fase makulopapuler yakni keluarnya bercak merah yang sering diiringi demam tinggi antara 38-40,5°C. Awalnya, bercak ini hanya muncul di beberapa bagian tubuh saja, biasanya di belakang kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Untuk membedakan dengan penyakit lain, umumnya warna bercak campak akan sangat khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil.

Biasanya, bercak merah akan memenuhi seluruh tubuh dalam waktu satu minggu meskipun hal ini tergantung pula pada daya tahan tubuh masing-masing anak. Pada anak yang memiliki daya tahan tubuh baik umumnya bercak merahnya hanya pada beberapa bagian saja. Tetapi pada anak yang memiliki daya tahan tubuh lemah, bercak merahnya akan semakin banyak. Hal ini juga menunjukkan kalau campak yang diderita anak termasuk berat.

(4) Fase Penyembuhan

Bila bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya. Selanjutnya bercak merah akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya, dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak.

Anjuran: Tetap berikan obat yang sudah diberikan oleh dokter sambil menjaga asupan makanan bergizi seimbang dan istirahat yang teratur. Jangan pernah beranggapan kalau bercak merah sudah berkurang dan gejalanya sudah hilang berarti virus campaknya sudah musnah. Kita tetap perlu melanjutkan pengobatan sampai anak benar-benar sembuh.

*Penyebab Campak:
Campak disebabkan oleh paramiksovirus ( virus campak)dan sangat mudah menular atau infeksius sejak awal masa prodromal, yaitu kurang lebih 4 hari pertama sejak munculnya ruam.

*Gejala Campak:
Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeks. Gejala pertama adalah demam, lelah, batuk, hidung meler, mata merah dan sakit, dan terasa kurang sehat. Beberapa hari kemudian timbul ruam.
Ruam tersebut mulai pada muka, merebak ke tubuh dan berlanjut selama 4-7 hari.

2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan tungkai, sedangkan ruam di wajah mulai memudar.

Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.

Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.

*Cara Penularan Campak:
Campak biasanya ditularkan sewaktu seseorang menyedot virus campak
yang telah dibatukkan atau dibersinkan ke dalam udara oleh orang yang
dapat menularkan penyakit. Campak merupakan salah satu infeksi
manusia yang paling mudah ditularkan. Berada di dalam kamar yang sama
saja dengan seorang penderita campak dapat mengakibatkan infeksi.

Penderita campak biasanya dapat menularkan penyakit dari saat sebelum
gejala timbul sampai empat hari setelah ruam timbul. Waktu dari eksposur
sampai jatuh sakit biasanya adalah 10 hari. Ruam biasanya timbul kirakira
14 hari setelah eksposur.

*Cara Pencegahan Campak:
Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas.

Jika hanya mengandung campak, vaksin diberikan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.

selain itu penderita juga harus disarankan untuk istirahat minimal 10 hari dan makan makanan yang bergizi agar kekebalan tubuh meningkat.

*Cara Mengobati Campak:
pengobatan campak hanya bersifat simptomatis, yakni mengobati gejalanya saja. Misalnya, bila muncul demam maka yang diobati adalah gejala demamnya. Bila mengalami batuk maka obat batuk digunakan untuk meringankan batuknya. Demikian pula bila anak diare maka dokter akan memberikan obat antidiare. Pada beberapa anak yang berbakat kejang, gejala ini bisa timbul sehingga dokter akan menyiapkan obat antikejang. Sementara hingga saat ini, belum ditemukan obat yang bisa langsung mengatasi virus campak tersebut.

Pengobatan gejala sangat penting dilakukan karena bila tidak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya. Bisa saja terjadi komplikasi terutama pada campak yang berat. Ciri-ciri campak berat, selain bercaknya di sekujur tubuh, gejalanya tidak membaik setelah diobati selama 1-2 hari. Sebaliknya, bila selama 1-2 hari pengobatan gejalanya sudah membaik, umumnya anak hanya menderita campak ringan.
Untuk menurunkan demam, diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.


Polio: Tidak Hanya Menyerang Kaki Anda
Penulis: Pernando Gazali, dr.
Beri nilai: 1 Poin2 Poin3 Poin4 Poin5 Poin

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang kembali merebaknya polio di Indonesia. Bahkan 5 Mei 2005 dilaporkan terjadi ledakan infeksi polio di Sukabumi. Perlukah kita mewaspadainya?

Poliomyelitis atau polio, adalah penyakit virus yang menyebabkan paralisis atau lumpuh. Penyebab penyakit ini adalah sebuah virus yang dinamakan Poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut lalu menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang terjadi kelumpuhan (paralisis). Virus polio sering menyerang tanpa gejala, merusak sistem saraf menimbulkan kelumpuhan permanen, biasanya pada kaki. Sejumlah besar penderita meninggal karena tidak dapat menggerakkan otot pernapasan.

Apakah polio itu?
Polio adalah penyakit yang menular melalui kontak antarmanusia. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi kotoran yang mengandung virus polio. Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas 3 strain berbeda dan sangat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3-5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3-35 hari.
Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui kotoran selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus.

Jenis Polio:

* Polio non-paralisis
Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung. Otot terasa lembek jika disentuh.
* Polio Paralisis
Kurang dari 1 persen orang yang terinfeksi virus polio berkembang menjadi polio paralisis atau menderita kelumpuhan. Polio paralisis dimulai dengan demam. Lima sampai tujuh hari berikutnya akan muncul gejala dan tanda-tanda lain, seperti:
-Sakit kepala
-Kram otot leher dan punggung
-Sembelit/konstipasi
-Sensitif terhadap rasa raba

Polio paralisis dikelompokkan sesuai dengan lokasi terinfeksinya, yaitu:

1. Polio Spinal
Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki. Setelah poliovirus menyerang usus, virus ini akan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus dan diangkut ke seluruh tubuh. Poliovirus menyerang saraf tulang belakang dan motorneuron yang mengontrol gerak fisik. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. Infeksi ini akan mempengaruhi sistem saraf pusat dan menyebar sepanjang serabut saraf. Seiring dengan berkembangbiaknya virus dalam sistem saraf pusat, virus akan menghancurkan motorneuron. Motorneuron tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas. Kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP). Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada dada dan perut, disebut quadriplegia. Anak-anak dibawah umur 5 tahun biasanya akan menderita kelumpuhan 1 tungkai, sedangkan jika terkena orang dewasa, lebih sering kelumpuhan terjadi pada kedua lengan dan tungkai.
2. Bulbar polio
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung motorneuron yang mengatur pernapasan dan saraf otak, yang mengirim sinyal ke berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher.
Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian. Lima hingga sepuluh persen penderita yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kematian biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf otak yang bertugas mengirim ‘perintah bernapas’ ke paru-paru. Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan; korban dapat ‘tenggelam’ dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru. Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan ‘paru-paru besi’ (iron lung). Alat ini membantu paru-paru yang lemah dengan cara menambah dan mengurangi tekanan udara di dalam tabung. Kalau tekanan udara ditambah, paru-paru akan mengempis, kalau tekanan udara dikurangi, paru-paru akan mengembang. Dengan demikian udara terpompa keluar masuk paru-paru. Infeksi yang jauh lebih parah pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian.
Tingkat kematian karena polio bulbar berkisar 25-75% tergantung usia penderita. Hingga saat ini, mereka yang bertahan hidup dari polio jenis ini harus hidup dengan paru-paru besi atau alat bantu pernapasan. Polio bulbar dan spinal sering menyerang bersamaan dan merupakan sub kelas dari polio paralisis.

Polio paralisis tidak bersifat permanen. Penderita yang sembuh dapat memiliki fungsi tubuh yang mendekati normal.

Bagaimana dengan anak-anak ?
Anak-anak kecil yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala ringan dan menjadi kebal terhadap polio. Maka dari itu, penduduk di daerah yang memiliki sanitasi baik justru menjadi lebih rentan terhadap polio karena tidak menderita polio ketika masih kecil. Vaksinasi pada saat balita akan sangat membantu pencegahan polio di masa depan karena polio menjadi lebih berbahaya jika diderita oleh orang dewasa. Orang yang telah menderita polio bukan tidak mungkin akan mengalami gejala tambahan di masa depan seperti layuh otot; gejala ini disebut sindrom post-polio.

Faktor Resiko
Anda beresiko tinggi terkena polio jika Anda jika Anda belum diimunisasi polio. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko terinfeksi polio:

* Bepergian ke daerah yang endemik polio atau baru saja terjadi KLB polio.
* Tinggal dengan orang yang terkena virus polio
* Kontak dengan orang yang baru saja divaksinasi polio jika Anda tidak divaksinasi.
* Bersentuhan dengan spesimen laboratorium yang mengandung virus polio
* Menderita penurunan sistem imun, seperti pada HIV
* Trauma pada mulut, hidung, operasi gigi, atau tonsil
* Aktivitas fisik dan stress ekstrim yang bisa menyebabkan turunnya sistem imun.

Bagaimana mencegahnya ?
Walaupun sanitasi umum dan kebersihan individual baik dapat menurunkan resiko penyebaran polio, namun hal yang paling efektif untuk mencegah terinfeksi polio adalah dengan divaksinasi.

Ada 2 jenis vaksin polio, yaitu:

* Vaksin polio oral
Ditemukan oleh Albert Sabin. Berisi virus polio hidup yang telah dilemahkan. Vaksin ini diberikan ke dalam mulut.
* Vaksin polio yang tidak aktif
Dikembangkan oleh Jonas Salk. Mengandung virus polio yang telah dimatikan. Pemberiannya dengan cara disuntikkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar